Mengapa Kita Harus Menulis?

Sumber Gambar: Maschun Blogdetik

Di masa digital ini, ada banyak orang yang menulis berbagai informasi menarik di berbagai situs maupun sosial media. Semua itu ditulis dan diberi keterangan gambar untuk menambah informasi secara menarik. Namun, apakah kita sendiri tahu sebenarnya alasan mengapa kita harus menulis? Jika kita sendiri menulis tanpa tahu alasan menulis, maka bisa jadi kita kehilangan jati diri dalam setiap tulisan kita. Oleh karena itu, beberapa alasan menulis di bawah ini, bisa kita pahami sebelum kita mulai menulis.

1. Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian

Ada suatu kalimat, yang bisa kita ingat saat kita tidak menulis. Kalimat ini diucapkan oleh salah satu sastrawan Indonesia yang telah menyumbangkan karya-karyanya pada khalayak luas. Pramoedya Ananta Toer tepatnya, sastrawan itu. Beliau berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

 Seperti yang Pram katakan, menulis adalah proses bekerja untuk keabadian. Orang sepintar dan visioner, akan sulit diingat, jika karya-karyanya tidak disebarluaskan pada khalayak luas. Pram menulis dari balik jeruji penjara, lalu tulisannya pun disebarluaskan hingga menjadi mahakarya. Jika saat di pengasingan, Pram tidak menuliskan keluh kesahnya atas bangsa Indonesia, sudah pasti Pram tidak akan menjadi seterkenal saat ini. Tidak akan kita temukan Tetralogi Bumi Manusia yang fenomenal, yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Dengan menulis, kita telah menyumbang satu cerita yang siapa tahu dapat bermanfaat di kemudian hari, dan menjadi catatan sejarah.

2. Berbagi dan Bermanfaat bagi Orang Lain

Selain menjadi sejarah, tentunya alasan kita menulis tidak lain adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain. Ada satu hal mengapa para novelis atau sastrawan terus kecanduan menulis. Hal itu karena mereka menemukan inovasi dan hal baru yang harus mereka bagikan pada orang lain. Mereka merasa memiliki kewajiban moral kepada orang lain jika belum membagikan hal tersebut, walau orang lain belum tentu membutuhkan penemuan yang mereka bentuk. Namun, dengan menulis dan mendokumentasikannya, di suatu hari pasti ada saja orang yang membutuhkan. Dengan menuliskan apa yang menjadi penemuan atau hal-hal berguna, tentulah kita menjadi manfaat bagi orang lain.

3. Memberi Motivasi

Dengan memberi manfaat bagi orang lain, tentunya secara tidak langsung kita dapat mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dorongan eksternal yang ada dalam diri manusia, dapat disebut sebagai motivasi. Motivasi adalah salah satu dorongan yang terjadi pada seseorang untuk mencapai tujuannya, dan hal ini bisa berupa dorongan internal maupun eksternal. Tulisan kita, bisa menjadi salah satu alasan seseorang mencapai tujuan dan itulah motivasi. Sebagai penulis, kita akan bangga jika tulisan kita menjadi motivasi bagi orang lain, dan tentu saja sebagai pembaca, mereka akan terlecut kembali motivasinya setelah membaca tulisan kita.

4. Ladang Inspirasi

Selain motivasi, kita bisa menjadi ladang inspirasi bagi orang lain. Banyak penulis, banyak penemu, atau banyak orang-orang yang butuh ide, mencari tulisan dari berbagai sumber. Ketika tulisan kita sesuai dengan kebutuhan mereka, tentu saja kita akan menjadi ladang inspirasi bagi mereka.

5. Memperluas Jaringan

Dengan menulis, kita secara tak langsung akan memperluas jaringan pertemanan kita. Akan ada komunitas, akan ada perkumpulan yang memiliki ketertarikan sama seperti kita. Selain itu, jika tulisan kita terkenal, akan ada komunitas pembaca tulisan kita. Hal ini sangat membantu kita dalam menulis lebih banyak dan lebih bermanfaat. Kita tahu, ada orang yang selalu menanti tulisan kita dan senang membacanya, hingga kita akan terus berproses untuk menulis lebih baik lagi.

6. Kepuasan Batin

Bagi beberapa orang, menulis menjadi satu kepuasan batin. Menulis adalah salah satu cara seseorang untuk menjadi signifikan, menjadi lebih percaya diri, dan menjadi senang. Menulis dapat menimbulkan perilaku pro sosial yang positif, karena orang yang menulis akan puas ketika tulisannya selesai. Sebut saja para novelis, yang sangat bahagia ketika berhasil menyelesaikan naskah mereka, terlepas dari proses penyuntingan yang sangat melelahkan. Tapi, ketika menemukan karya mereka dipajang di toko buku dan dibaca banyak orang, ada rasa puas yang menjalari para novelis. Inilah alasan internal dalam menulis, yaitu untuk memuaskan batin kita.

7. Menjadi Ladang Penghasilan

Alasan terakhir ini tentu bukan menjadi alasan utama. Alasan ini hanyalah efek dari banyaknya tulisan kita dan bertambahnya kualitas tulisan kita setelah lama menulis. Kita akan mendapatkan kompensasi dari jerih payah kita dalam proses menulis. Ada suatu pencapaian materiil yang kita dapat, setelah kita menulis. Misalnya, awalnya kita menulis hal-hal trivial sederhana saja, hingga akhirnya ada yang menghubungi kita untuk menjadi seorang penulis partikelir. Kita juga bisa diundang untuk menjadi pembicara dalam komunitas menulis. Bahkan, kalau tulisan kita terbit menjadi sebuah buku tunggal, ada kompensasi berupa royalti yang kita dapat. Hal ini menjadi alasan terakhir kita dalam menulis, setelah hal-hal lain. Dengan begitu, kita akan menjadi semakin semangat dalam menulis.

Jadi, bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman sudah menemukan alasan menulis? Jika sudah, silakan berbagi di kotak komentar ya!

 

Salam,

#1Minggu1Cerita

 

Leave a Reply