Hallooo. Tanggal 6 Mei lalu 1minggu1cerita mengadakan kulwap perdananya di grup WA 1m1c. Narasumber kulwap kita kali ini adalah kak Darma Eka Saputra, salah satu member sekaligus admin di 1minggu1cerita. Kulwap kali ini membahas seputar PUEBI.

Bahas apa aja nih di kulwap-nya? Ini Mingce rangkum ya materi serta sesi tanya jawabnya.

Kesalahan Menulis Menurut PUEBI

Halo, Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wa Barakaatuh. Perkenalkan saya Darma Eka Saputra, member dan juga salah satu admin 1m1c. Saya pernah jadi editor penerjemah pada salah satu penerbit di Surabaya. Sekarang mengajar Fisika, sambil tetap jadi editor penerjemah lepas.

Kali ini kita akan membahas kesalahan umum blogger dalam menulis menurut PUEBI.

PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) adalah perubahan dari EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang selama ini kita kenal. PUEBI berisi kaidah-kaidah, dan sistem tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti: pemakaian tanda baca, huruf kapital, kata hubung, dan lain-lain.

Ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan penulis blog dalam tulisan mereka. Beberapa di antaranya adalah:

Pemakaian “di” dan “ke”

Sering beberapa di antara penulis blog salah dalam pemakaian  “di” dan “ke”. Jika diikuti oleh kata kerja, maka pemakaiannya digabung, contoh: dimakan, dibuang, kecampur (tidak baku). Jika diikuti kata tempat maka pemakaiannya dipisah, contoh: di rumah, ke sungai.

Pemakaian Partikel “pun”

Pemakaian partikel pun itu dipisah dari kata yang mendahuluinya. Contohnya:

  • Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
  • Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
  • Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan: Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai. Misalnya:

  • Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
  • Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
  • Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
  • Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.

Pemakaian Bilangan dalam Teks

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian. Misalnya:

  • Saya didampingi oleh dua orang teman.
  • Dari 5 orang teman-teman saya, 2 adalah arsitek, 1 insinyur, dan 2 sisanya bankir.

Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Contoh: 

  • Tiga belas orang diusir dari rapat itu.

Jika ternyata lebih dari dua kata, maka kalimatnya diubah. Contoh:

  • 250 orang tewas dalam kecelakaan tersebut. Kalimat tersebut diganti menjadi, “Kecelakaan tersebut merenggut 250 korban jiwa.”

Mungkin masih ada lagi beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan penulis blog yang belum dibahas semuanya. Kesalahan umum ini tidak berkaitan dengan gaya bahasa kita dalam menulis di dalam blog. Ada yang senang menulis dengan bahasa baku, ada yang senang menggunakan bahasa tidak baku, santai, dekat dengan bahasa sehari-hari. Bagaimanapun gaya tulisan Anda, sebaiknya tetap menggunakan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tanya Jawab Seputar PUEBI

Setelah materi dari kak Darma, diadakan sesi tanya jawab. Berikut rangkumannya.

Apa sih perbedaan mendasar PUEBI dibanding EYD? #PertanyaanDariGenerasiEYD

Gampangnya PUEBI adalah penyempurnaan dari EYD. Ada beberapa hal yang ditambahkan pada PUEBI ini:

  1. Penambahan diftong “ei”, contohnya: survei.
  2. Penggunaan huruf tebal.
  3. Penggunaan huruf kapital untuk penyebutan julukan, misalnya: si Codet.

Teknisnya gimana sih biar kita tidak terlanjur post padahal belum pas secara PUEBI-nya?

Saya pernah diajarkan sama beberapa mentor nulis begini, “Tulis dulu, baru edit.” Ketika punya ide, tumpahkan dulu semuanya dalam tulisan, biarkan tidak teratur, kacau balau, penuh saltik (salah ketik), lalu ketika sudah tumpah semua, baru susun, perbaiki, dan dipoles lagi.

Kemudian, ketika kita sudah merasa yakin tulisan tersebut sudah memenuhi kaidah PUEBI, silakan di tampilkan di laman blog kita. Namun, jika ternyata setelah diposting, masih ditemukan kekeliruan, tidak apa-apa. Sunting saja tulisannya. Beberapa buku yang terkenal mengalami beberapa kali penyuntingan dan penyempurnaan kok.

Edit tulisan orang lain sepertinya lebih mudah dibanding tulisan sendiri. Minta tipsnya dong biar lebih objektif sama tulisan sendiri terkait masalah PUEBI-nya.

Sepakat, lebih mudah menyunting tulisan orang lain daripada tulisan sendiri. Sering kita merasa sudah percaya diri dengan hal yang sudah kita tulis, lalu terkadang abai sehingga malas untuk lebih teliti membaca tulisan sendiri. Tips dari saya cuma ini, “terus belajar, jangan malas.” Saya sering mengalami hal ini soalnya. Sering abai meneliti lagi terjemahan sendiri. Hehehe.

Jika ingin menulis judul pada blog dengan jenis listicle, biasanya kan angka di depan. Padahal dalam tuntunan tadi dijelaskan jangan angka di depan. Jadi sebaiknya bagaimana? Karena artikel seperti itu biasanya diminati seperti Hipwee. Terima kasih.

Saya sering membaca artikel-artikel seperti ini. “6 Langkah Mudah Melupakan Mantan, Nomor 7 akan Membuat Anda Tercengang.” Hal ini berkaitan dengan pasar, strategi menjangkau banyaknya “klik” pada artikel. Kalau saya pribadi, lebih senang membuat judul yang baru, tapi tetap membuat penasaran. “Sulit Melupakan Mantan? Lakukan Enam Langkah ini, Maka Hidupmu akan Lebih Tenang.”

Maksud saya, jika kita ingin konsisten menulis dengan baik, tetap upayakan menulis sesuai PUEBI, tapi sesuaikan dengan selera pasar. Itu semua tergantung kita saja. Itu pendapat saya saja sih, karena berkaitan dengan pasar. Tidak sedikit web yang tidak mengikuti kaidah PUEBI. Bahkan portal berita besar pun, sering salah dalam penerapan PUEBI.

Kadang saya bertemu tulisan “nasi padang”, yang mana kadang huruf P menggunakan kapital, kadang tidak. Nah pertanyaan saya, saat kondisi bagaimana Padang menggunakan kapital dan tidak?

Terkait penulisan nasi padang, tetap memakai huruf kecil. Sama juga dengan penulisan elang jawa, jeruk bali.

Saya kadang masih bingung untuk penulisan partikel lah apa digabung atau dipisah?

Terkait penyulisan partikel “lah”, “kah”, dan “tah”, digabung dengan kata yang mendahuluinya. Contohnya: apakah, entahlah, apatah.

PUEBI kan soal berbahasa secara baku ya. Sebenarnya di mana batas atau beda antara “baku” dengan “baik dan benar”?

Sependek pemahaman saya, baku dan tidak baku terkait dengan pemakaian kata sih. Memakai kata-kata seperti “seneng”, “nyeremin”, atau kata-kata yang sering dipakai di bahasa pergaulan, menunjukkan pemakaian bahasa yang tidak baku.

Idealnya, kata tidak baku dalam teks ditulis dengan huruf miring. Namun, jika blog kita dari awal sudah santai dan tidak baku, tidak usah ditulis dengan huruf miring.

Baik dan benar terkait kaidah-kaidah dalam berbahasa, seperti yang saya tulis di awal. Pemakaian tanda baca, huruf besar, kata depan, akhiran, dan lain-lain merupakan tanda pemakaian bahasa yang baik dan benar.

Saya berikan contoh seperti ini:

  • Sering gue mikir, bahwa hidup itu nggak adil.

Kalimat di atas tidak baku, tapi cukup baik dan benar.

Ini opini saya, ya.

Saran saya, jika ingin belajar berbahasa yang baik dan benar, perbanyak baca bacaan yang memakai kalimat baku dan sesuai kaidah PUEBI. Harian Kompas, Tempo, Media Indonesia, dan Tempo cukup saya rekomendasikan. Fiksi-fiksinya, khususnya Kompas, sangat luar biasa.

Oh ya, silakan ikuti akun media sosial Ivan Lanin, jika ingin menambah wawasan dalam berbahasa. Kalau saya tidak salah, pemakaian kata “gawai” merupakan usulannya.


Demikian rekap materi dan tanya jawab dalam kulwap kali ini. 

Semoga bermanfaat yaa.

Categories: TIPS MENULIS

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *